Pengadaan barang dan jasa yang baik diperlukan dalam menunjang berjalannya
roda perekonomian bangsa. Berbagai temuan dan laporan dari aparat pemeriksa
banyak menunjukkan penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa ini.
Penyimpangan ini ditandai dengan banyaknya kasus penanganan tindak pidana yang
ditangani oleh aparat hukum.
Ada beberapa praktik yang memicu tindak pidana dalam pengadaan barang dan
jasa antara lain penyuapan, memecah atau menggabung paket, penggelembungan
harga, mengurangi kualitas dan kuantitas barang dan jasa, penunjukan langsung,
kolusi antara penyedia dan pengelola pengadaan barang dan jasa.
Untuk mengantisipasi berbagai resiko pengadaan barang dan jasa tersebut
dapat dilakukan antara lain dengan menghindari resiko yaitu dengan
mengimplementasikan pengadaan barang dan jasa yang tepat, memindahkan resiko
kepada pihak lain yaitu dengan meminta penjelasan tertulis (fatwa) untuk
permasalahan-permasalahan yang tidak jelas, atau dengan mengurangi resiko yaitu
dengan melibatkan tenaga ahli sebagai penerima barang, melibatkan konsultan
hukum dalam merancang kontrak, memperkuat sistem pengawasan internal dari KPA
atau PPK.
Kata Kunci: Risiko, Pidana, Pengadaan
Pembangunan sarana maupun prasarana dalam menunjang roda perekonomian dan
pelayanan masyarakat di Indonesia menjadi sebuah keharusan. Pembangunan sarana
dan prasarana ini tentunya harus diimbangi dengan pengadaan barang dan jasa
yang baik. Namun dalam pelaksanaannya seringkali dijumpai berbagai penyimpangan
dalam proses pengadaan barang dan jasa Pemerintah. Berdasarkan berbagai data
yang ada, kerugian keuangan negara yang ditimbulkan akibat penyimpangan
terhadap ketentuan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah ternyata
nilainya luar biasa besar. BPKP menyatakan bahwa jika dilihat dari belanja
barang dan jasa Pemerintah telah terjadi kebocoran rata-rata 30% atau sekitar
25 Triliun Rupiah. Angka tersebut diperhitungkan hanya berdasarkan dari
anggaran Pemerintah pusat saja dan belum diperhitungkan dengan anggaran
pemerintah daerah.(Amirudin : 2010)
Penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa Pemerintah diindikasikan dengan
banyaknya penanganan tindak pidana korupsi terkait pengadaan barang dan jasa
yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maupun oleh penegak
hukum lain di Indonesia. KPK menyatakan, kasus korupsiyang paling banyak dilakukan
pejabat pemerintah umumnya dalam proyek pengadaan barang dan jasa. Pada periode
2004-2010, 44 persen kasus korupsi yang ditangani KPK merupakan kasus pengadaan
barang dan jasa. Pengadaan barang dan jasa merupakan jenis korupsi tertinggi
yang ditangani KPK. Tertinggi kedua adalah Kasus penyuapan yang mencapai 29
persen (http://
www.merdeka.com).
Penyimpangan dalam proses pengadaan barang dan jasa yang merugikan keuangan
negara merupakan salah satu bentuk tindak pidana korupsi. Definisi korupsi itu
sendiri diatur di dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi. Definisi
didalam pasal tersebut memuat unsur-unsur; secara melawan hukum; memperkaya
diri sendiri; orang lain atau suatu korporasi; yang dapat menimbulkan kerugian
keuangan negara atau perekonomian negara.
Faktor-faktor yang menjadikan pengadaan barang dan jasa sebagai ladang subur
praktek korupsi, diantaranya adalah banyaknya uang yang beredar, tertutupnya
kontak antara penyedia jasa dan panitia lelang dan banyaknya prosedur lelang
yang harus diikuti. Proses pengadaan ini walaupun tercium adanya indikasi
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), tetapi pembuktiannya sangat sulit karena
sistem administrasi dari pemberi dan penerima pekerjaan ini sangatlah rapi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan proses yang terbuka dalam
pengadaan barang dan jasa. Proses yang transparan ini akan memberikan
kesempatan yang sama kepada penyedia barang dan jasa dan dalam pelaksanaannya
akan mendapatkan pengawasan dari masyarakat (KPK : 2007)
Praktik yang Memicu Tindak Pidana dalam Pengadaan barang dan jasa
Terdapat 3 (tiga) unsur untuk dapat dikategorikan sebagai tindak pidana,
Pertama,
menyalahgunakan kewenangannya,
kedua, memberikan keuntungan baik
kepada diri sendiri maupun orang lain, dan
ketiga, menimbulkan
kerugian keuangan negara. Bila proses yang sedang berjalan, walaupun belum
final/akhir, namun sudah ada indikasi atau "dugaan kuat" adanya penyimpangan
bisa atau dapat dikategorikan pelanggaran terhadap UU Korupsi.
Berikut adalah beberapa perbuatan yang bisa memicu terjadinya tindak pidana
pada pengadaan barang dan jasa pemerintah antara lain :
a. Penyuapan
Menyuap adalah usaha yang dilakukan sesorang untuk mempengaruhi pejabat
pemerintah (pengambil keputusan) supaya melakukan tindakan tertentu atau supaya
tidak melakukan tindakan tertentu dengan memberikan imbalan uang atau benda
berharga lainnya. Tindak pidana suap merupakan tindak pidana yang berada dalam
satu jenis dengan tindak pidana korupsi dan merupakan jenis tindak pidana yang
sudah sangat tua. Penyuapan sebagai istilah sehari-hari yang dituangkan dalam
Undang-Undang adalah sebagai suatu hadiah atau janji ("giften" atau "beloften")
yang diberikan atau diterima. Pelaku penyuapan dikategorikan menjadi penyuapan
aktif (active omkoping) adalah jenis penyuapan yang pelakunya sebagai pemberi
hadiah atau janji, sedang penyuapan pasif (passive omkoping) adalah jenis
penyuapan yang pelakunya sebagai penerima hadiah atau janji.
Penyuapan biasanya dilakukan oleh rekanan kepada bupati, walikota, gubernur,
dirjen, menteri, pengguna anggaran, kuasa pengguna anggaran, pejabat pembuat
komitmen, panitia penerima barang dan jasa, atau kepada anggota pokja ULP.
Tujuan penyuapan ini adalah agar pengelola pengadaan memenangkan penawaran dari
rekanan, supaya pengelola kegiatan menerima barang/jasa yang diserahkan rekanan
dimana kualitas dan atau kuantitasnya lebih rendah dibandingkan yang
diperjanjikan dalam kontrak.
Larangan penyuapan diatur pada pasal 6 Perpres 54 tahun 2010 jo Perpres 70
tahun 2012 yaitu berkaitan dengan etika pengadaan. Para pihak yang terkait
dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa harus mematuhi etika sebagai berikut :
a. melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk
mencapai sasaran, kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan Pengadaan
Barang/Jasa;
b. bekerja secara profesional dan mandiri, serta menjaga kerahasiaan Dokumen
Pengadaan Barang/Jasa yang menurut sifatnya harus dirahasiakan untuk mencegah
terjadinya penyimpangan dalam Pengadaan Barang/Jasa;
c. tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung yang
berakibat terjadinya persaingan tidak sehat;
d. menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan
sesuai dengan kesepakatan tertulis para pihak;
e. menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak
yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses Pengadaan
Barang/Jasa;
f. menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan
negara dalam Pengadaan Barang/Jasa;
g. menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan
tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung
atau tidak langsung merugikan negara; dan
h. tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi
atau menerima hadiah, imbalan, komisi, rabat dan berupa apa saja dari atau
kepada siapapun yang diketahui atau patut diduga berkaitan dengan Pengadaan
Barang/Jasa.
Ancaman hukuman terhadap penerima suap diatur pada pasal 418 KUHP :
Seorang pejabat yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau
sepatutnya harus diduganya, bahwa hadiah atau janji itu diberikan karena
kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya atau yang menurut
pikiran orang yang memberi hadiah atau janji itu ada hubungannya dengan
jabatannya, diancam dengan pidana penjara paling lama enam bulan atau pidana
denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Sedangkan pada pasal 419 KUHP diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun apabila seorang pejabat :
1. Menerima hadiah atau janji padahal diketahuinya bahwa hadiah atau janji
itu diberikan untuk menggerakkan supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu
dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya
2. Yang menerima hadiah mengetahui bahwa hadiah itu diberikan sebagai akibat
atau oleh karena si penerima telah melakukan sesuatu atau tidak melakukan
sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.
Kemudian pada UU No.31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupssi ancaman hukuman terhadap penerima suap disebutkan :
Pasal 11
Setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pa sal
418 KUHP, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama
5 tahun dan denda paling sedikit Rp.50.000.000 dan paling banyak
Rp.250.000.000,-
Pasal 12
Setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal
419, pasal 420, pasal 423, pasal 425 atau pasal 435 KUHP dipidana dengan pidana
penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama
20 tahun dan denda paling sedikit Rp.200.000.000 dan paling banyak
1.000.000.000.
Ada beberapa kasus yang menyeret pelaku suap ini ke jeruji penjara, antara
lain korupsi pengadaan alat-alat kesehatan atas nama Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Lombok Barat dr. HL Sekarningrat. Pengadilan Negeri Mataram dalam
putusan No. 274/PID.B/2004/PN.MTR tanggal 17 Pebruari 2005 memutusakan bahwa
terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi dengan menerima sejumlah
fee
proyek dari rekanan dengan janji atau hadiah yang berhubungan dengan
jabatannya Pidana penjara 5 bulan dan denda 10 juta Rupiah subsider bulan kurungan.
b. Menggabungkan atau memecah paket pekerjaan
Berkaitan dengan pemaketan pekerjaan Perpres 54 tahun 2010 pada pasal 24
ayat 3 mengatur prosedur sebagai berikut :
Dalam melakukan pemaketan Barang/Jasa, PA dilarang:
a. menyatukan atau memusatkan beberapa kegiatan yang tersebar di beberapa
lokasi/daerah yang menurut sifat pekerjaan dan tingkat efisiensinya seharusnya
dilakukan di beberapa lokasi/daerah masing-masing;
b. menyatukan beberapa paket pengadaan yang menurut sifat dan jenis
pekerjaannya bisa dipisahkan dan/atau besaran nilainya seharusnya dilakukan
oleh Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil;
c. memecah Pengadaan Barang/Jasa menjadi beberapa paket dengan maksud
menghindari pelelangan; dan/atau
d. menentukan kriteria, persyaratan atau prosedur pengadaan yang
diskriminatif dan/atau dengan pertimbangan yang tidak obyektif.
Pemecahan atau penggabungan paket bisa dilakukan dengan pertimbangan yang
jelas dan sesuai dengan prinsip pengadaan yang efektif dan efisien. Pemecahan
paket dapat dilakukan karena perbedaan target penyedia, perbedaan lokasi
penerima/pengguna barang yang cukup signifikan, atau perbedaan waktu pemakaian
dari barang dan jasa tersebut. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
maupun Undang-undang Nomor 31 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak
mengatur ancaman perbuatan menggabungkan atau memecah paket. Pada perpres 54
tahun 2010 jo Perpres 70 tahun 2012 juga tidak ada ancaman terhadap
penggabungan atau pemecahan paket. Ancaman tindak pidana muncul apabila dapat
dibuktikan bahwa pemecahan atau penggabungan paket tersebut diikuti dengan
praktek penggelembungan harga. Apabila hal ini terjadi maka praktek
penggelembungan harga inilah yang diancam hukuman.
c. Penggelumbungan harga
Merujuk pada Perpres 54 tahun 2010 diatur mengenai etika pengadaan dimana
pada pasal 6 disebutkan salah satunya adalah menghindari dan mencegah
terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang dan
jasa. Etika pengadaan tersebut menegaskan bahwa rekanan maupun pengelola
pengadaan secara tegas dilarang melaksanakan pengadaan barang/jasa yang dapat
mengakibatkan pemborosan keuangan negara. Semua peristiwa tindak pidana
pengadaan barang dan jasa hampir selalu mengakibatkan pemborosan.
Praktek penggelembungan harga ini diawali dari penentuan HPS yang terlalu
tinggi karena penawaran harga peserta lelang/seleksi tidak boleh melebihi HPS
sebagaimana diatur pada pasal 66 Perepres 54 tahun 2010 dimana HPS adalah dasar
untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang sah untuk Pengadaan
Barang/Pekerjaan Konstruksi/JasaLainnya dan Pengadaan Jasa Konsultansi yang
menggunakan metode Pagu Anggaran. Penyusunan HPS dikalkulasikan secara keahlian
berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Contoh penyimpangan yang dapat terjadi dapat dilihat dalam kasus pengadaan
alat pendidikan dokter di di Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan
(BPPSDMK) pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2010, yang mana Kejaksaan
Agung telah menetapkan 3 tersangkanya. Dalam kasus ini diduga telah terjadi
rekayasa harga dalam tender pengadaan alat pendidikan dokter tersebut Tersangka
Widianto Aim berperan membuat penetapan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang
tidak profesional terkait tender pengadaan alat pendidikan dokter rumah sakit
tersebut. Kemudian tersangka Syamsul Bahri sebagai Kasubag Program dan Anggaran
(PA) juga terkait dalam penetapan HPS dalam tender tersebut. Terakhir,
tersangka Bantu Marpaung sebagai pemenang tender terkait dalam penetapan HPS
tender tersebut.
Kasus mark up yang lain misalnya
mark-up pada pengadaan dua unit
Helikopter jenis MI-2 buatan Rostov-Rusia oleh Pemda NAD dengan terdakwa Sdr.
Ir. H. Abdullah Puteh, M.Si. (mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam).
Pengadilan Tipikor dan diperkuat oleh MA telah memvonis Ir. H. Abdullah Puteh
10 tahun penjara, uang pengganti 4,5 miliar rupiah dan denda 0,5 miliar rupiah.
Terdakwa dipidana 10 tahun penjara dan harus membayar uang pengganti 4,5 miliar
rupiah dan denda 0,5 miliar rupiah.
d. Mengurangi kuantitas dan atau kualitas barang dan jasa
Dalam setiap pengadaan barang dan jasa senantiasa diikuti dengan bukti
perjanjian baik dalam bentuk Surat Perjanjian/kontrak maupun Surat Perintah
Kerja (SPK). Kontrak adalah bentuk kesepakatan tertulis antara penyedia dan
pengguna barang/jasa tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak. Dalam
kontrak selalu diatur tentang kuantitas dan kualitas barang dan jasa yang
diperjanjikan, sehingga setiap usaha untuk mengurangi kuantitas atau kualitas
barang dan jasa adalah tindak pidana.
Pengurangan kuantitas dan kualitas ini seringkali dilakukan bersamaan dengan
pemalsuan dokumen berita acara serah terima barang, dimana penyerahan barang
diikuti berita acara yang menyatakan bahwa penyerahan barang telah dilakukan
sesuai dengan kontrak. Terhadap hal ini KUHP pada pasal 263 menyatakan :
(1) Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat
menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang
diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai
atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan
tidak dipalsu, diancam, jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian,
karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.
(2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai
surat palsu atau yang dipalsukan, seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu
dapat menimbulkan kerugian.
Pada Perpres 54 tahun 2010 pada pasal 18 diatur tentang tugas pokok dan
kewenangan dari Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP), dimana PPHP
mempunyai tugas pokok dan kewenangan sebagai berikut :
a. melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa sesuai dengan
ketentuan yang tercantum dalam Kontrak;
b. menerima hasil Pengadaan Barang/Jasa setelah melalui
pemeriksaan/pengujian; dan
c. membuat dan menandatangani Berita Acara Serah TerimaHasil Pekerjaan.
Secara legal formal tanggung jawab untuk menyatakan bahwa barang atau jasa
yang diserahkan telah sesuai dengan kontrak baik kualitas maupun kuantitasnya
adalah PPHP. Namun secara material penyedia barang dan jasa juga harus
bertanggungjawab terhadap kekurangan ini. Penyedia yang melakukan kecurangan
ini bisa dikenai tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 7 UU 20 Tahun 2001 merujuk
pada Pasal 387 dan Pasal 388 KUHP yang kualifikasinya adalah melakukan
perbuatan curang bagi pemborong, ahli bangunan dan pengawas, sehingga
membahayakan keamanan orang atau barang dan membahayakan keselamatan negara
Perbuatan curang yang dilakukan adalah pemborong misalnya melakukan
pembangunan suatu bangunan tidak sesuai atau menyalahi ketentuan yang sudah
diatur dan disepakati yang tertuang dalam surat perjanjian kerja atau
leveransir, bahan bangunan yang dipesan/dibeli darinya tidak sesuai dengan yang
diperjanjikan. Perbutan curang ini tidak perlu mengakibatkan bangunan itu roboh
atau negara menjadi betul-betul bahaya, karena dalam unsurnya dikatakan
"dapat membahayakan keamanan orang atau barang dan membahayakan
keselamatan negara"
e. Penunjukan langsung
Penunjukan langsung adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa dengan
menunjuk langsung 1 penyedia barang/jasa yang memenuhi syarat. Dalam Perpres 54
tahun 2010 pasal 38 menyebutkan bahwa penunjukan langsung dapat dilakukan dalam
hal:
a. keadaan tertentu; dan/atau
b. pengadaan Barang khusus/Pekerjaan Konstruksi khusus/Jasa Lainnya yang
bersifat khusus.
Penunjukan langsung dapat dilakukan sepanjang memenuhi
kriteria yang
diuraikan secara ketat pada pasal 38 dan pasal 44. Penunjukan langsung
yang terjadi diluar yang telah ditetapkan dalam Perpres tersebut adalah ilegal.
Dalam beberapa kasus penunjukan langsung ini juga diikuti dengan pengelembungan
harga, karena tentu harus ada fee yang diberikan penyedia barang/jasa sebagai
ucapan terimakasih kepada pejabat yang menunjuk.
Beberapa kasus penunjukan langsung yang terjadi seperti kasus pengadaan dan
pembelian pesawat terbang jenis Fokker 27 seri 600, dengan putusan No. 43
K/Pid/2007, atas nama terdakwa Drs. David Agustein Hubi. Dalam kasus ini,
pelaksanaan proyek pengadaan dan pembelian pesawat terbang tersebut tidak
berpedoman pada Keppres No. 18 tahun 2000 (merupakan peraturan yang berlaku
pada saat kejadian berlangsung) tentang pengadaan barang dan jasa, dimana
proyek yang telah dilaksanakan tidak dilengkapi dengan SPK (Surat Perintah
Kerja) maupun Kontrak Kerja akan tetapi hanya mendasari dengan surat perjanjian
saja, disisi lain dalam pelaksanaan proyek tidak dilakukan tender dan analisa
kewajaran harga. Terdakwa didakwa telah melanggar Pasal 3 Undang-Undang RI
Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke
-1 KUHP. Pengadilan Negeri Menghukum Terdakwa atas ketiga perbuatan tersebut
dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dan Denda sebesar Rp. 400.000.000,-
(empat ratus juta rupiah) subsidair 6 (enam) bulan kurungan. Oleh pengadilan
tinggi, hukuman ini ditambah menjadi pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun dan
membayar uang pengganti kepada Negara sebesar Rp. 1.661.000.000,- (satu milyar
enam ratus enam puluh satu juta rupiah).
f. Kolusi antara penyedia dan pengelola pengadaan.
Kolusi yang bisa memicu terjadinya tindak pidana antara lain
a. Membuat spesifikasi barang/jasa yang mengarah ke rekanan tertentu
b. Mengatur/Merekayasa Proses Pengadaan
c. Membuat syarat-syarat untuk membatasi peserta lelang
Pada Perpres 54 tahun 2010 pada pasal 24 disebutkan tentang pelarangan
menentukan kriteria, persyaratan atau prosedur pengadaan yang diskriminatif
dan/atau dengan pertimbangan yang tidak obyektif.
Kemudian pada pasal 56 juga disebutkan :
Perbuatan atau tindakan penyedia Barang/Jasa yang dapat dikenakan sanksi
adalah:
a. berusaha mempengaruhi ULP/Pejabat Pengadaan/pihak lain yang berwenang
dalam bentuk dan cara apapun, baik langsung maupun tidak langsung guna memenuhi
keinginannya yang bertentangan dengan ketentuan dan prosedur yang telah
ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan/Kontrak, dan/atau ketentuan peraturan
perundang-undangan;
b. melakukan persekongkolan dengan Penyedia Barang/Jasa lain untuk mengatur
Harga Penawaran diluar prosedur pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa, sehingga
mengurangi/menghambat/memperkecil dan/ atau meniadakan persaingan yang sehat
dan/atau merugikan orang lain;
Muara dari kolusi tersebut adalah peniadaan kompetisi dalam pengadaan barang
dan jasa. Kompetisi dalam pengadaan publik berarti penyedia secara independen
bersaing untuk menawarkan barang/jasa dalam suatu proses pemilihan. Kompetisi
yang sehat merupakan elemen kunci yang akan menghasilkan penawaran yang paling
menguntungkan bagi pemerintah khususnya harga paling rendah dan kualitas barang
yang paling baik. Bagi penyedia kompetisi berfungsi sebagai pendorong penting
tumbuhnya inovasi produk barang/jasa untuk menghasilkan produk terbaik dengan
harga bersaing. Kompetisi hanya bisa tercapai jika tidak ada kolusi dalam
tender, salah satu masalah yang paling menonjol dalam korupsi pengadaan di
sektor publik. Penyedia akan bersaing dengan sehat ketika mereka yakin bahwa
mereka disediakan semua informasi yang sama dan akan dievaluasi dengan metode
evaluasi yang tidak diskriminatif, serta tersedia mekanisme untuk melakukan
sanggahan terhadap keputusan hasil evaluasi.
Beberapa contoh praktek persyaratan yang diskriminatif antara lain peserta
tender harus menunjukkan saldo kas dengan jumlah tertentu, Laporan keuangan
peserta tender harus sudah diaudit KAP, Peserta harus memiliki rekening pada
bank tertentu. Dalam Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah maka Unit Layanan Pengadaan (ULP) yang melakukan
penyimpangan dapat dikenai sanksi sebagaimana dirumuskan Pasal 118 : apabila
terjadi pelanggaran dan/atau kecurangan dalam proses Pengadaan Barang/Jasa,
maka Unit Layanan Pengadaan (ULP) dikenakan sanksi administrasi, dituntut ganti
rugi; dan/atau dilaporkan secara pidana.
Penutup
Dengan memahami praktik-praktik yang memicu tindakan pidana dalam pengadaan
barang dan jasa diatas diharapkan para pengelola pengadaan barang dan jasa
dapat mengantisipasi resiko pidana tersebut. Resiko pidana dapat diantisipasi
dengan beberapa jalan
1. Menghindari resiko, dapat dilakukan dengan mengimplementasikan pengadaan
barang dan jasa yang tepat sesuai Perpres 54 tahun 2010 jo Perpres 35 tahun
2011 jo Perpres 70 tahun 2012 serta aturan-aturan pelaksanaannya.
2. Memindahkan resiko kepada pihak lain, dapat dilakukan dengan meminta
penjelasan tertulis (fatwa) untuk permasalahan-permasalahan yang tidak jelas
kepada lembaga yang berkompenten seperti BPK, BPKP, LKPP, KPK dan pihak lain
yang berkompenten.
3. Mengurangi resiko, dapat dilakukan dengan melibatkan tenaga ahli sebagai
penerima barang, melibatkan konsultan hukum dalam merancang kontrak, memperkuat
sistem pengawasan internal dari KPA atau PPK.
Daftar Pustaka
1. Amirudin. 2012 Analisis Pola Pemberantasan Korupsi dalam Pengadaan Barang
dan Jasa
2. Muhammad Jasin dkk. 2007. Memahami untuk melayani, Melaksanakan
E-Announcement dan E-Procurement dalam Sistem Pengadaan Barang dan Jasa. Komisi
Pemberantasan Korupsi
3. Indonesia Procurement Watch. 2011 Laporan Survey Jejak Suap dalam
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
4. Peraturan Presiden No.54 Tahun 2010 jo Peraturan Presiden No. 70 Tahun
2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah
5. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
tentang Tindak Pidana Korupsi.
6. Suswinarno Ak, MM. 2013 Mengantisipasi Resiko dalam Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah
7.
www.pantau-pengadaan.org.
Kajian Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dari Perspektif Hukum Pidana dan
Kriminologi
8. http://
www.merdeka.com
9. http://
www.hukumonline.com
Diposting oleh : Administrator